Senin, 14 Mei 2012

Macam-macam Gunung Dan Gunung Berapi

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Gunung merupakan bentuk muka bumi yang menonjol dari rupa bumi di sekitar. Gunung biasanya lebih tinggi dan curam dibandingkan bukit.
Gunung terbentuk oleh adanya gerakan magma atau ekstrusi magma dalam bumi dan kantung/dapur magma sampai lapisan permukaan bumi. Ekstrusi magma inilah yang melahirkan gunung api. Gunung api biasanya masih aktif artinya gunung tersebut sewaktu-waktu dapat mengalami letusan-letusan. Pegunungan dapat mempengaruhi cuaca karena mereka menjadi hambatan bagi pergerakan awan. Semua sungai utama di dunia dimulai dari gunung, dan lebih separuh manusia bergantung kepada gunung untuk air.
Oleh karena itu makalah saya akan membahas materi tentang macam-macam  gunung dan gunung berapi.
B.       Rumusan Masalah
1.      Sebutkan macam-macam gunung?
2.      Pengertian gunung berapi?
3.      Sebutkan Pembagian Gunung api berdasarkan Proses terjadinya ?
C.      Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui macam-macam gunung.
2.      Untuk mengetahui Pengertian gunung berapi.
3.      Untuk mengetahui Pembagian gunung berapi berdasarkan Proses terjadinya.











BAB II
MACAM-MACAM GUNUNG DAN GUNUNG BERAPI


A.      Gunung
Definisi Gunung merupakan bentuk muka bumi yang menonjol dari rupa bumi di sekitar. Gunung biasanya lebih tinggi dan curam dibandingkan bukit[1]. Gunung dan pegunungan terbentuk karena pergerakan kerak bumi yang menjulang naik. Jika kedua kerak bumi menjulang naik, pegunungan dihasilkan, sebaliknya jika salah satu kerak bumi terlipat bawah kerak yang lain, gunung  berapi terbentuk.  Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu; misalnya, Encyclopædia Britannica membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610 m) agar bisa didefinisikan sebagai gunung.
Gunung adalah bagian permukaan bumi yang berbentuk kerucut atau kubah yang berdiri sendiri dan terdiri atas satu puncak tertinggi yang dibatasi oleh lereng. Gunung juga merupakan buldt yang besar yang bentuknya lebih runcing dan lebih tinggi dan permukaan bumi di sekitarnya.
Gunung terbentuk oleh adanya gerakan magma atau ekstrusi magma dalam bumi dan kantung/dapur magma sampai lapisan permukaan bumi. Ekstrusi magma inilah yang melahirkan gunung api. Gunung api biasanya masih aktif artinya gunung tersebut sewaktu-waktu dapat mengalami letusan-letusan.
Pegunungan dapat mempengaruhi cuaca karena mereka menjadi hambatan bagi pergerakan awan[2]. Pegunungan Alpen merupakan pegunungan yang terbesar di Eropa dianggap masih muda. Ini dibuktikan oleh puncak dan atap gunung yang tajam dan masih belum terkikis menjadi tumpul oleh tindakan cuaca, air, dan angin.
Gunung meliputi 54% wilayah Asia, 36% Amerika utara, 25% Eropa, 22% Amerika Selatan, 17% Australia dan 3% Afrika. Secara keseluruhan, 24% dari daratan di Bumi terdiri dari pegunungan. Selain itu, 1 dalam 10 orang tinggal di daerah pegunungan. Semua sungai utama di dunia dimulai dari gunung, dan lebih separuh manusia bergantung kepada gunung untuk air.
Gunung yang diakui sebagai gunung tertinggi di dunia adalah Gunung Everest.
Tinggi gunung pada umumnya diukur dari kedalaman laut, dengan itu membuat gunung Everest 8,848 meter (29,028 kaki) tertingi di dunia. Jika ukuran ketinggian gunung di ambil dari kaki gunung sampai ke puncak, gunung Mauna Kea di Hawaii yang berdiri 10,203 meter (33,476 kaki) dari dasar lautan Pasifik adalah tertinggi di dunia. Cara mengukur ketiga adalah dari pusat bumi sampai ke puncak, menjadikan gunung Chimborazo di pegunungan Andes sebagai tertinggi.
Contoh gunung api di Indonesia[3] yang dapat dijumpai  di antaranya : yang berada di daratan adalah Gurung Slamet di Jawa Tengah, Gunung Merapi di Yogyakarta, sedangkan gunung api di laut misalnya, Gunung Krakatau di Selat Sunda. Selain gunung api yang masih aktif juga terdapat gunung yang tidak aktif atau ada yang menyebut gunung “tidur”, artinya gunung tersebut sudah tidak mengeluarkan lagi material vulkan baik padat maupun cair.
Contoh : gunung yang tidak aktif adalah Gunung
Ciremai di Jawa Barat, Gunung Lawu di Jawa Tengah, dan Gunung Salak di Bogor.
Macam-macam Gunung :
1.      Gunung berapi
2.      Gunung tidak berapi
B.       Gunung Berapi
Gunung berapi atau gunung api perlu didefinisikan[4] meskipun memang agak susah untuk mendefinisikan apa itu gunung berapi atau gunung api, namun secara umum istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat dia meletus.
Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik. "Pacific Ring of Fire". Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik (teori tektonik lempeng).
Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin bertukar menjadi separuh aktif, menjadi padam, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu menjadi padam dalam waktu 610 tahun sebelum bertukar menjadi aktif semula. Oleh itu, sukar untuk menentukan keadaan sebenarnya sesuatu gunung berapi itu, apakah sesebuah gunung berapi itu berada dalam keadaan padam atau telah mati.
Gunung api adalah  lubang kepundan atau  rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Matrial yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Dapat juga didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat dia meletus. 
Aktivitas gunungapi merupakan sebab utama adanya sebaran panas bumi, terutama hidrotermal. Batuan pemanas dari aktivitas vulkanisme akan berfungsi sebagai sumber pemanasan air. Panas yang ditimbulkan oleh pergerakan sesar aktif kadang-kadang berfungsi pula sebagai sumber panas. Seperti sumber-sumber mata air panas di daerah sekitar gunungapi di sepanjang jalur sesar aktif Palu - Koro, di Sulawesi.
Erupsi adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi. Erupsi dapat dibedakan menjadi erupsi letusan (explosive erupstion) dan erupsi non-letusan (non-explosive eruption). Jenis erupsi yang terjadi ditentukan oleh banyak hal seperti kekentalan magma, kandungan gas di dalam magma, pengaruh air tanah, dan kedalaman dapur magma (magma chamber). Kekentalan magma dan kandungan gas di dalam magma ditentukan oleh komposisi kimia magma. Pada erupsi letusan, proses keluarnya magma disertai tekanan yang sangat kuat sehingga melontarkan material padat yang berasal dari magma maupun tubuh gunungapi ke angkasa.
1.        Gunung api diklasifikasikan ke dalam dua sumber erupsi, yaitu[5]:
a.     Erupsi pusat, erupsi keluar melalui kawah utama;
b.    Erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya;
c.     Erupsi celah, erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer;
d.    Erupsi eksentrik, erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
2.        Bagaimana gunungapi terbentuk[6] ?
Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda :
a.    Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
b.    Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak kepermukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
c.    Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuanatau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lavasepanjang rekahan.
d.   Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yangmembentuk deretan gunungapi perisai.
Penampang diagram yang memperlihatkan bagaimana gunungapi terbentuk di permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera serta mekanisme peleburan batuan yang menghasilkan busur gunungapi, busur gunungapi tengah samudera, busur gunungapi tengah benua dan busur gunung api dasar samudera. (Modifikasi dari Sigurdsson, 2000).
Di Indonesia (Jawa dan Sumatera) pembentukan gunungapi terjadi akibat tumbukan kerak Samudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatra penunjaman lebih kuat dan dalam sehingga bagian akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias, Mentawai, dll. (Modifikasi dari Katili, 1974).
3.        Struktur Gunung Berapi[7] :
a.     Struktur kawah adalah bentuk morfologi negatif ataudepresi akibat kegiatan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar;
b.    Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. Kaldera terdiri atas : kalderaletusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya; kalderaruntuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengeluaran material yangsangat banyak dari dapur magma; kaldera resurgent, terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuhgunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah; kaldera erosi, terjadi akibat erosi terusmenerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera;
c.     Rekahan dan graben, retaka-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang mencapai puluhankilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan parallel yang mengakibatkan amblasnya blok diantara rekahan disebut graben;
d.    Depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volumebesar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapaiukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.
4.        Pembagian Gunung Berapi
Gunung api dibagi berdasarkan[8] ; Aktivitas, Proses terjadinya dan Tipe letusan.
1.    Berdasarkan aktivitasnya
a.    Gunung api aktif, gunung api yang masih bekerjadan mengeluarkan asap, gempa dan letusan
b.    Gunung api mati, gunung api yang tidak memilikikegiatan erupsisejak tahun 1600.
c.    Gunung api istirahat,yaitu gunung apiyang meletus sewaktu-waktu, kemudian beristirahat, contoh : Gunung Ciremai dan Kelud
2.    Berdasarkan Proses Terjadinya
a.    Bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya;
b.    Bentuk kubah, dibentuk oleh terbosan lava di kawah, membentuk seperti kubah;
c.    Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria;
d.   Maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik; Plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.



3.    Berdasarkan Tipe Letusan
a.    Tipe Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana;
b.    Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua;
c.    Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batu apung dalam jumlah besar;
d.   Tipe Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit;
e.    Tipe Ultra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa;
f.     Tipe Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik;
g.    Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.
5.        Jenis Gunung Berapi
Tipe-tipe gunung api berdasarkan bentuknya (morfologi)[9]:
a.     Strato volcano
Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), terkadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali.
b.    Perisai ( Shield Volcano)
Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.
c.     Cinder Cone,
                





Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.

d.    Kaldera,
Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.

6.        Proses Terjadinya Letusan Gunung Berapi
Letusan gunung berapi dapat berakibat buruk terhadap margasatwa lokal, dan  juga manusia.  Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kemusnahan oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut[10]:
·         Aliran lava.
·         Letusan gunung berapi.
·         Aliran lumpur.
·         Abu.
·         Kebakaran hutan.
·         Gas beracun.
·         Gelombang tsunami.
·         Gempa bumi.
Proses Terjadinya Letusan Gunung Berapi
Dalam beberapa letusan, gumpalan awan besar naik ke atas gunung, dan sungai lava mengalir pada sisi-sisi gunung tersebut. Dalam letusan yang lain, abu merah panas dan bara api menyembur keluar dari puncak gunung, dan bongkahan batu-batu panas besar terlempar tinggi ke udara. Sebagian kecil letusan memiliki kekuatan yang sangat besar, begitu besar sehingga dapat memecah-belah gunung.
Pada dasarnya, gunung berapi terbentuk dari magma, yaitu batuan cair yang terdalam di dalam bumi. Magma terbentuk akibat panasnya suhu di dalam interior bumi. Pada kedalaman tertentu, suhu panas ini sangat tinggi sehingga mampu melelehkan batu-batuan di dalam bumi. Saat batuan ini meleleh, dihasilkanlah gas yang kemudian bercampur dengan magma. Sebagian besar magma terbentuk pada kedalaman 60 hingga 160 km di bawah permukaan bumi. Sebagian lainnya terbentuk pada kedalaman 24 hingga 48 km.
Magma yang mengandung gas, sedikit demi sedikit naik ke permukaan karena massanya yang lebih ringan dibanding batu-batuan padat di sekelilingnya. Saat magma naik, magma tersebut melelehkan batu-batuan di dekatnya sehingga terbentuklah kabin yang besar pada kedalaman sekitar 3 km dari permukaan. Magma chamber inilah yang merupakan gudang (reservoir) darimana letusan material-material vulkanik berasal.
Magma yang mengandung gas dalam kabin magma berada dalam kondisi di bawah tekanan batu-batuan berat yang mengelilinginya. Tekanan ini menyebabkan magma meletus atau melelehkan conduit (saluran) pada bagian batuan yang rapuh atau retak. Magma bergerak keluar melalui saluran ini menuju ke permukaan. Saat magma mendekati permukaan, kandungan gas di dalamnya terlepas. Gas dan magma ini bersama-sama meledak dan membentuk lubang yang disebut lubang utama (central vent). Sebagian besar magma dan material vulkanik lainnya kemudian menyembur keluar melalui lubang ini. Setelah semburan berhenti, kawah (crater) yang menyerupai mangkuk biasanya terbentuk pada bagian puncak gunung berapi. Sementara lubang utama terdapat di dasar kawah tersebut.
7.        Klasifikasi gunung berapi di Indonesia
Kalangan vulkanologi Indonesia mengelompokkan gunung berapi ke dalam tiga tipe berdasarkan catatan sejarah letusan/erupsinya[11].
  • Gunung api Tipe A : tercatat pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.
  • Gunung api Tipe B : sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik namun masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti kegiatan solfatara.
  • Gunung api Tipe C : sejarah erupsinya tidak diketahui dalam catatan manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia
Status
Makna
Tindakan
AWAS
  • Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana
  • Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap
  • Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam
  • Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan
  • Koordinasi dilakukan secara harian
  • Piket penuh
SIAGA
  • Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana
  • Peningkatan intensif kegiatan seismik
  • Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
  • Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu
  • Sosialisasi di wilayah terancam
  • Penyiapan sarana darurat
  • Koordinasi harian
  • Piket penuh
WASPADA
  • Ada aktivitas apa pun bentuknya
  • Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal
  • Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya
  • Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal
  • Penyuluhan/sosialisasi
  • Penilaian bahaya
  • Pengecekan sarana
  • Pelaksanaan piket terbatas
NORMAL
  • Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
  • Level aktivitas dasar
  • Pengamatan rutin
  • Survei dan penyelidikan

C.      Bahaya Gunung Berapi
Bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia.
ü  Bahaya yang langsung (Primer) oleh letusan gunungapi adalah:
1.    Leleran lava
     Leleran lava merupakan cairan lava yang pekat dan panas dapat merusak segala infrastruktur yang dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang dierupsikan gunungapi, komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukup lamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya.
2.    Aliran piroklastik (awan panas)
     Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150 250 km/jam dan jangkauan aliran dapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak di atas air/laut.


3.    Jatuhan piroklastik
     Jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, pada saat energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan merontokkan daun-daun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.
4.    Lahar letusan
     Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air alam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan lumpur panas.
5.    Gas vulkanik beracun
Gas beracun umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2 dll, pada konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.
ü  Bahaya sekunder, terjadi setelah atau saat gunung api aktif:
1.    Lahar Hujan
     Lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 m dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
2.    Banjir bandang
     Banjir bandang terjadi akibat longsoran material vulkanik lama pada lereng gunungapi karena jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran Lumpur disini tidak begitu pekat seperti lahar, tapi cukup membahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai dengan tiba-tiba terjadi aliran lumpur.
3.    Longsoran vulkanik
     Longsoran vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik ini jarang terjadi di gunungapi secara umum sehingga dalam peta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat Longsoran vulkanik.
D.      Penanggulangan Bencana Gunung Berapi
Dalam penanggulangan bencana letusan gunungapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan sesudah terjadi letusan.
1.        Sebelum terjadi letusan dilakukan :
·       Pemantaun dan pengamatan kegiatan pada semua gunungapi aktif,
·       Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunungapi yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunungapi,
·       Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunungapi,
·       Melakukan pembimbingan dan pemeberian informasi gunungapi,
·       Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunungapi,
·       Melakukan peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya seperti peningkatan sarana dan prasarananya.
2.        Setelah terjadi letusan :
·       Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan,
·       Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya,
·       Memberikan saran penanggulangan bahaya,
·       Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang,
·       Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak,
·       Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun,
·       Melanjutkan memantauan rutin.













BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1.        Macam-macam Gunung :
a.    Gunung berapi
b.    Gunung tidak berapi
2.        Gunung berapi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat dia meletus.
Selain itu dapat didefinisikan, Gunung berapi adalah  lubang kepundan atau  rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi.
3.        Bentuk Gunung berapi :
a.       Bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya;
b.      Bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah, membentuk seperti kubah;
c.       Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria;
d.      Maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik;Plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.












DAFTAR PUSTAKA


Listiana, Lina,dkk. 2008. Learning Assistance Program For Islamic Schools (LAPIS) PGMI. Edisi Pertama Paket 11-20. Surabaya
Widgatmati, Wirastuti dkk. 2006. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. Grasindo
Wie, Jay L. 2007. Exploring Creation With Physical Science 2nd Edition. USA : Apologia Educational Ministries, Inc.
http://ngembanguncup.blogspot.com/2009/03/pengertian-arti-definisi-gunung.html























 
KATA PENGANTAR


Puji syukur penyusun ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena taufik dan hidayah –Nya yang diberikan tiada henti, sehingga makalah yang berjudul“ Macam-macam Gunung dan Gunung Berapi” dapat diselesaikan.
Tidak lupa pula penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini.
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas terstuktur  mata kuliah “Sains Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat ”. Penyusun menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini sedikit banyaknya dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan dan bagi pembaca umumnya.



Cirebon, 13 April 2012 











i
 
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
A.    Latar Belakang ................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan................................................................................................. 1
BAB II MACAM-MACAM GUNUNG DAN GUNUNG BERAPI ...................... 2
A.    Gunung............................................................................................................... 2
B.     Gunung Berapi.................................................................................................... 3
C.     Bahaya Gunung Berapi....................................................................................... 13
D.    Penanggulangan Bencana Gunung Berapi.......................................................... 15
BAB III PENUTUP...................................................................................................... 16
Kesimpulan.............................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA











ii
 
 


[1] Jay L.Wie.Exploring Creation With Physical Science 2nd Edition. (USA : Apologia Educational Ministries, 2007) hlm. 151
[2] [2] Jay L.Wie.Exploring Creation With Physical Science 2nd Edition. (USA : Apologia Educational
Ministries, 2007) hlm. 152
[4] http://ngembanguncup.blogspot.com/2009/03/pengertian-arti-definisi-gunung.html
[5] Wirastuti Widgatmati dkk. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. (Grasindo : 2006)  hlm. 4
[6] Wirastuti Widgatmati dkk. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. (Grasindo : 2006)  hlm. 4-5
[7] Wirastuti Widgatmati dkk. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. (Grasindo : 2006)  hlm. 6
[8] Wirastuti Widgatmati dkk. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. (Grasindo : 2006)  hlm. 7-8
[9]  Wirastuti Widgatmati dkk. Geografi  Untuk SMP & MTs VII. (Grasindo : 2006)  hlm. 9
[10] Jay L.Wie.Exploring Creation With Physical Science 2nd Edition. (USA : Apologia Educational
Ministries, 2007) hlm. 154

2 komentar: